Negara Dinilai Perlu Memberikan Penghormatan atas Jasa Mahakarya Arsitek Nasional Friedrich Silaban

Maha Karya Fredrick Silaban

Indonesiainews.com

Jakarta — Selasa 03 Februari 2026

Nama Friedrich Silaban menempati posisi penting dalam sejarah pembangunan nasional Indonesia. Arsitek kelahiran Bonan Dolok, Samosir, Sumatera Utara, pada 16 Desember 1912 ini dikenal sebagai salah satu tokoh arsitektur nasional yang berkontribusi besar dalam membentuk wajah fisik sekaligus identitas simbolik Indonesia pascakemerdekaan. Melalui karya-karya monumental yang hingga kini masih berdiri dan berfungsi, Silaban tidak hanya meninggalkan warisan bangunan, tetapi juga gagasan kebangsaan yang melampaui zamannya.

Dalam tulisannya berjudul “Negara Semestinya Memberikan Penghormatan atas Jasa Mahakarya Friedrich Silaban”, Dr. Eriko Silaban, S.Pd., M.Pd. menegaskan bahwa kontribusi Friedrich Silaban tidak dapat dipahami semata-mata sebagai capaian teknis di bidang arsitektur. Menurutnya, karya dan pengabdian Silaban mengandung dimensi ideologis, kebangsaan, serta nilai simbolik yang kuat bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Karya, gagasan, dan pengabdian Friedrich Silaban tidak hanya bersifat teknis arsitektural, tetapi juga mengandung nilai ideologis, kebangsaan, dan simbolik yang kuat bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tulis Dr. Eriko Silaban.

Arsitek Negara dan Kepercayaan Presiden Soekarno

Friedrich Silaban dikenal luas sebagai arsitek kepercayaan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno. Dalam konteks pembangunan nasional awal kemerdekaan, Soekarno memandang arsitektur sebagai alat strategis untuk menegaskan jati diri bangsa yang baru merdeka—bangsa yang berdaulat, modern, dan sejajar dengan negara-negara maju di dunia. Visi tersebut menemukan wujud nyatanya melalui tangan dan pemikiran Friedrich Silaban.

Dalam dokumen tersebut dijelaskan bahwa Silaban berasal dari latar belakang sederhana. Ia menempuh pendidikan formal di H.I.S. Narumonda, melanjutkan ke Koningen Wilhelmina School (KWS) di Jakarta, serta Akademi Arsitektur di Amsterdam, Belanda. Meski demikian, perjalanan profesionalnya banyak ditempa melalui pengalaman lapangan dan pengabdian di berbagai institusi pemerintahan, mulai dari Kotapraja Batavia hingga Dinas Pekerjaan Umum di Bogor.

Masjid Istiqlal dan Simbol Kebhinekaan Bangsa

Mahakarya Friedrich Silaban yang paling dikenal publik adalah Masjid Istiqlal Jakarta. Pada 1954, Silaban memenangkan sayembara desain masjid nasional dengan sandi “Ketuhanan”. Kemenangan tersebut menandai babak penting dalam sejarah arsitektur Indonesia, sekaligus menjadi simbol kuat toleransi dan kebhinekaan bangsa.

Masjid Istiqlal tidak hanya berfungsi sebagai rumah ibadah umat Islam, tetapi juga sebagai monumen kemerdekaan Indonesia dan simbol persatuan nasional. Pada masanya, masjid ini bahkan tercatat sebagai masjid terbesar di Asia Tenggara. Fakta bahwa perancangnya adalah seorang arsitek non-Muslim semakin memperkuat pesan kebangsaan dan toleransi yang melekat pada bangunan tersebut.

“Bangunan-bangunan karya Friedrich Silaban tidak hanya berfungsi secara fisik, tetapi juga merepresentasikan identitas nasional, persatuan, dan kedaulatan bangsa,” tulis Dr. Eriko Silaban.

Deretan Karya Monumental Nasional

Selain Masjid Istiqlal, Friedrich Silaban merancang dan terlibat dalam pembangunan berbagai bangunan strategis negara yang hingga kini menjadi ikon nasional. Di antaranya adalah Stadion Utama Gelora Bung Karno, Monumen Pembebasan Irian Barat, Gedung Conefo (kini Gedung DPR/MPR RI), Gedung Pola Jakarta, Tugu Khatulistiwa Pontianak, hingga sejumlah gedung Bank Indonesia dan BNI di Jakarta dan Medan.

Bangunan-bangunan tersebut tidak sekadar memenuhi kebutuhan ruang, tetapi juga merepresentasikan semangat nasionalisme, modernitas, dan kedaulatan bangsa Indonesia. Dalam konsep arsitekturnya, Silaban menolak dominasi gaya kolonial dan mendorong lahirnya arsitektur Indonesia yang memiliki karakter sendiri, berdiri sejajar dengan arsitektur dunia.

Peran Strategis dalam Sejarah Profesi Arsitek

Kontribusi Friedrich Silaban tidak berhenti pada karya fisik. Ia juga berperan penting dalam sejarah organisasi profesi arsitek di Indonesia. Pada 1959, Silaban terlibat aktif dalam proses pembentukan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI). Dalam pertemuan bersejarah di Bandung pada 16–17 September 1959, Silaban bersama arsitek senior dan generasi muda merumuskan tujuan, cita-cita, serta dasar pendirian organisasi arsitek profesional Indonesia.

Dokumen tersebut mencatat bahwa Silaban berpandangan tegas mengenai perbedaan antara profesi perancang (konsultan) dan pelaksana (kontraktor). Ia menekankan bahwa arsitektur merupakan profesi yang mengandung tanggung jawab moral dan kehormatan personal, bukan semata kegiatan bisnis yang berorientasi laba.

Pengabdian Tanpa Kepentingan Pribadi

Dalam tulisannya, Dr. Eriko Silaban juga menyoroti sisi keteladanan Friedrich Silaban sebagai pribadi yang mengabdikan keahliannya untuk negara tanpa orientasi keuntungan pribadi. Silaban tidak meninggalkan kekayaan materi yang besar, namun mewariskan karya monumental yang manfaatnya dirasakan lintas generasi.

“Ia tidak meninggalkan kekayaan besar, namun mewariskan karya monumental yang manfaatnya dirasakan lintas generasi hingga saat ini,” tulis Dr. Eriko Silaban.

Friedrich Silaban wafat pada 14 Mei 1984 di Jakarta dan dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Cipaku, Bogor. Meski telah puluhan tahun berlalu, relevansi karya dan pemikirannya tetap hidup dalam denyut pembangunan nasional Indonesia.

Pembangunan sebagai Proses Pembentukan Peradaban

Dr. Eriko Silaban menegaskan bahwa pembangunan tidak dapat dipahami semata sebagai aktivitas fisik dan ekonomi. Pembangunan, menurutnya, adalah proses pembentukan peradaban bangsa (nation and civilization building). Dalam konteks inilah, kontribusi Friedrich Silaban menjadi sangat signifikan.

“Pembangunan harus memuat nilai pendidikan, kebudayaan, dan identitas nasional agar mampu membentuk manusia Indonesia yang berkarakter,” ujar Dr. Eriko Silaban.

Menurutnya, sudah semestinya negara memberikan penghormatan yang layak atas jasa Friedrich Silaban sebagai tokoh bangsa di bidang pembangunan nasional. Penghormatan tersebut tidak hanya penting sebagai bentuk keadilan sejarah, tetapi juga sebagai inspirasi bagi generasi penerus dalam membangun Indonesia yang berkarakter, berdaulat, dan berkepribadian.

Penulis: Dr. Eriko Silaban, S.Pd., M.Pd.

Redaksi.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *