Medan, Sabtu, 30 Mei 2026 – Maruli Siahaan menghadiri sekaligus memberikan sharing pengalaman dalam kegiatan Seminar Keluarga HKBP Sei Agul dengan tema “Iman Dimulai dari Rumah” yang dilaksanakan di HKBP Sei Agul Ressort Medan IV, Jalan Gereja No. 29, Medan.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Panitia Transformasi Pengajaran Iman di Tengah Keluarga bekerja sama dengan Seksi Parompuan dan Seksi Ama, Dewan Koinonia HKBP Sei Agul Ressort Medan IV. Seminar tersebut menjadi ruang pembelajaran bagi jemaat, khususnya para orangtua, untuk memperkuat kembali peran keluarga sebagai pusat utama pembentukan iman, karakter, dan kepribadian anak.
Dalam kesempatan tersebut, Maruli Siahaan menyampaikan bahwa keluarga memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk dasar kehidupan anak. Menurutnya, rumah bukan hanya tempat tinggal, melainkan tempat pertama anak mengenal Tuhan, belajar kasih, disiplin, tanggung jawab, dan keberanian mengambil keputusan.
“Iman anak-anak tidak hanya diajarkan di gereja, tetapi harus dimulai dari rumah. Rumah adalah tempat pertama anak belajar tentang Tuhan, kasih, disiplin, dan tanggung jawab,” ujar Maruli.
Maruli juga membagikan pengalaman pribadinya bersama sang istri dalam mendidik keempat anaknya. Ia menegaskan bahwa pola pendidikan dalam keluarga tidak dilakukan dengan cara mendikte atau memaksa, melainkan melalui dialog, diskusi, pemberian pandangan, serta pendampingan terhadap pilihan anak.
“Saya dan istri tidak pernah memaksakan anak-anak harus mengikuti kehendak orangtua. Kami selalu mengajak mereka berdialog dan berdiskusi, termasuk dalam menentukan pilihan pendidikan dan masa depan mereka,” jelasnya.
Ia menyampaikan bahwa anak pertama, kedua, dan keempat memilih menempuh jalur Akademi Militer (Akmil), sedangkan anak ketiga memilih jalur Akademi Kepolisian (Akpol). Menurutnya, pilihan tersebut bukan lahir dari paksaan, melainkan dari proses komunikasi yang sehat di dalam keluarga.
“Kami hanya memberikan pandangan tentang disiplin, tanggung jawab, risiko, dan konsekuensi dari setiap pilihan. Pada akhirnya, anak harus belajar memilih dengan iman, akal sehat, dan tanggung jawab,” tambahnya.
Dalam paparannya, Maruli juga menyoroti tantangan besar yang dihadapi anak-anak dan keluarga di tengah kehidupan kota besar seperti Medan. Ia menyebut bahwa anak-anak masa kini hidup di tengah berbagai risiko sosial, seperti pergaulan bebas, kekerasan, narkoba, geng motor, judi online, tekanan digital, hingga krisis karakter.
Karena itu, ia menekankan pentingnya komunikasi yang hangat dan terbuka antara orangtua dan anak. Menurut Maruli, rumah harus menjadi tempat paling aman bagi anak untuk bercerita, menyampaikan pergumulan, serta mendapatkan arahan yang benar dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
“Jangan sampai anak lebih nyaman bercerita kepada lingkungan yang salah daripada kepada orangtuanya sendiri. Orangtua harus hadir, mendengar, mendoakan, dan menuntun dengan kasih,” tegasnya.
Maruli juga mengingatkan bahwa pendidikan keluarga tidak boleh hanya berfokus pada nilai akademik atau keberhasilan masuk sekolah tertentu. Menurutnya, anak-anak juga harus dibekali dengan karakter yang kuat, kemampuan menjaga diri, keberanian memilih teman yang benar, serta keteguhan untuk menolak hal-hal yang dapat merusak masa depan mereka.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan seorang anak tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual, tetapi juga oleh kekuatan karakter, kedewasaan dalam mengambil keputusan, dan fondasi iman yang kuat yang dibangun sejak dini di lingkungan keluarga.
Pada akhir penyampaiannya, Maruli menegaskan bahwa warisan terbaik yang dapat diberikan orangtua kepada anak bukan hanya harta, jabatan, atau pendidikan tinggi, melainkan iman yang kuat, karakter yang benar, keberanian memilih yang baik, dan kedekatan dalam keluarga.
“Anak tidak selalu membutuhkan orangtua yang sempurna. Anak membutuhkan orangtua yang hadir, mau mendengar, mendoakan, dan menuntun dengan kasih,” tutup Maruli.
Kegiatan Seminar Keluarga HKBP Sei Agul ini berlangsung dengan penuh antusiasme dari para peserta. Melalui seminar tersebut, para orangtua diajak untuk semakin menyadari pentingnya peran keluarga sebagai tempat pertama dan utama dalam menanamkan nilai-nilai iman Kristen kepada anak-anak.
Seminar ini diharapkan dapat semakin menguatkan peran ayah dan ibu dalam membangun pengajaran iman Kristen di tengah keluarga, sekaligus mendorong setiap rumah tangga menjadi tempat pertama bagi anak untuk bertumbuh dalam iman, kasih, dan karakter yang kuat sebagai bekal menghadapi tantangan zaman yang terus berkembang.














